Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

SENJA BERKABUT MERAH DAN LELAKI YANG PERNAH KUCINTAI (Malang Post, 9 April 2017)

Gambar
Benda ini bergerak lagi. Jantungku berdebar hebat. Kadang memang sakit. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan. Ada yang lebih menjadi beban. Sejak beberapa hari lalu, mimpi-mimpi itu semakin gencar menghujam malamku dengan beribu ketakukan. Aku semakin tidak siap akan hal ini. Aku tidak siap memperkenalkannya dengan dunia yang sepertinya saat ini lebih pantas disebut neraka. Hei, apakah kau bisa merasakannya dari dalam sana. Apakah kau tahu apa yang sedang terjadi di sini, di sekitarku dan di belahan bumi lain. Apakah kau juga merasakan ketakutan saat mimpi buruk tentang dosa-dosa dan tanda kehancuran itu datang padaku setiap malam. Apakah kau tahu apa yang aku rasakan. Apakah kau ikut menangis?

SEPASANG SAYAP DALAM AKUARIUM (Radar Malang, 9 April 2017)

Gambar
Malaikat kecil itu sudah di ambang hayatnya. Semesta telah menutup harapan dengan bermacam alibi. Tidak ada tempat untuk menyelamatkan malaikatnya yang baru saja berbancuh dengan darah dari rahimnya yang menanggung beban selama delapan bulan. Ia dihantui keresahan. Kenapa malaikatnya harus luruh di waktu yang sangat dini, saat fajar belum menyingsing dan meruapkan kehangatan. Mengapa Tuhan membebaskannya saat embun masih merayap-rayap di dinding semesta.

TAMU TERHORMAT (Koran Madura, 12 Agustus 2016)

Gambar
Dua tiga pesawat yang bertolak dari Bandar Udara Ngurah Rai melintas di depan matanya yang terpaku pada bacaan. Di samping itu, ia biarkan degung-degung bertempo dinamis kembali menyihir senyumnya. Menghabiskan pagi dengan berjemur di bawah terik di tepi pantai Pulau Dewata sudah menjadi candu bagi wisatawan mancanegara, tak terkecuali Samantha. Malam ini bersama Ni Ketut Pudji ia bermalam di sebuah bungalow klasik. Dominasi bahan kayunya terkesan tradisional. Teduh dan nyaman disinggahi. Bersanding dengan hening di tempat eksotis ini, Samantha lebih berkonsentrasi menggarap tulisannya yang sudah dikontrak penerbit terkemuka di negerinya, Singapura.

IBU-IBU BLOK MELATI (Republika, 30 Agustus 2015)

Gambar
Penghuni Blok Melati, Perumahan Asri Cendana, katanya istimewa. Blok ini dihuni rata-rata oleh kaum elite berlimpah materi. Di Blok Melati ada kediaman Pak Zayyid, seorang camat. Ada pula kediaman Pak Roekhan yang berprofesi sebagai dokter umum. Pak Ganjar, direktorat hulu di sebuah BUMN. Pak Sauki, direktur salah satu bank konvensional unit cabang. Pak Pupung, seorang perwira tinggi TNI AD dengan pangkat letnan jenderal. Pak Ramelan, seorang komisaris jenderal polisi. Pak Sumlah selaku ketua RT adalah seorang rektor di universitas swasta. Dan, masih banyak pak- pak berstatus sosial hartawan lainnya.

ELEGI SI TUMBANG KAKI (Antologi "Coretan Inspirasiku")

Gambar
          Dia keluar dari pintu lab medis dengan raut sumringah bersama seorang dokter senior yang menyertai di sampingnya. Ingar bingar wartawan mendesak para bodyguard , merangsek mereka dengan penuh harap dapat menangkap sepotong kajian aktual yang bisa mereka posting di media. Dalam hitungan detik para wartawan berhasil mencegat piawai medis itu.

DUA TAKDIR

Gambar
By: Jun Haiyy             Gadis itu tampak sudah siap menikmati detik-detik profesi kuliahnya . Dengan seragam putih-putihnya diwarnai dengan hijab raksasa yang memendam dalam-dalam auratnya. Hatinya penuh dengan rona bahagia, setelah wisuda kelulusan S1-nya di Universitas Airlangga fakultas keperawatan dengan IPK tertinggi 3,98. Lira, itulah sapaan orang padanya. Gadis penuh gairah yang telah membuat orang tuanya bahagia dengan kelulusannya, kini juga akan membuat pasien bahagia dengan pelayanannya. Ia mengayuh sepeda ontelnya dengan wajah riang cemerlang menuju rumah sakit.

BENCI BAKAR POTENSI (Elfata, Edisi 12 Vol. 13 2013)

Gambar
Orientasi. itulah yang selama ini mendampingi aksiku dalam meniti kehidupan. Mengambil tindakan dan menanam prinsip. Awalnya, orientasi itu sama sekali tak jelas. Masa-masa yang begitu muram, seperti berada dalam kubangan lumpur jahiliyah. Potensiku seakan tak ada gunanya. Ah, itu masa lalu, masa putih abu-abu. Aku duduk, terpekur di sebuah bench depan kampus ternama, Universitas Gadjah Mada . Beginilah rasanya, setelah melawan kebodohan dan kelalaian, berjuang dengan segenap tekad, sampai akhirnya sesuatu yang sangat aku benci menjadi bagian dari hidupku. Sama sekali tak terbayang bahwa aku bisa tembus di fakultas Teknik Fisika yang benar-benar aku benci sejak aku mengenalnya. Aku berostalgia, mengeja memoar silam, mengenangnya kembali di waktu senggang itu.             Fisika, mata pelajaran yang paling aku benci. Ia seakan musuh dalam hidupku. Tentu saja kebencian itu membuatku bodoh dalam bidangnya. Hasil tes fisikaku ta...